Juli 14, 2020

Haul Ke-33 KH. Muslihch dan Masyayikh Pondok Pesantren Raudhlatut Thalibin Tanggir

KH Mushlich, dengan nama kecil Sho’im, lahir di desa Mojo (yang lebih dikenal dengan sebutan Jambangan) Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban. Tepatnya, pada tanggal 17 ramadhan 1343 H/1921 M, dari pasangan KH. Abdul Karim dan Ny. Mu’isah (Putri KH. Murtadlo, kuncen padangan  Bojonegoro) bin K. Syihabuddin bin K. Anom bin KH. Abdul Jabbar Nglirip Jojogan (menantu mbah sambu Gresik, cucu sunan Ampel) bin pengeran Benowo bin Sultang Panjang (menantu raden fatah Demak).

Beliau dibesarkan dari keluarga sederhana di lingkungan yang bersahaja, yaitu lingkungan pesantren di desa terpencil yang dikelilingi oleh sungai kening.

Seperti anak kecil lainnya, KH. Mushlich kecil senang bermain dengan teman sebayanya. Tetapi, beliau sejak kecil sudah memiliki kelebihan di antara teman-temannya, sabar, tenang, selalu mengalah, tidak sombong, dan lembut. Beliau di juluki sang penyabar dan peramah karena sifat-sifat beliau yang selalu tawadhu’ dan sopan santun kepada siapapun.

Sejak usia 10 tahun, mbah Sho’im kecil sudah merantau untuk menuntut Ilmu (nyantri). Beliau berguru kepada KH. Syarbini Lengkong Lajo Lor Singgahan Tuban. Kemudian dilanjutkan ke pesantren Sarang Rembang, Jawa Tengah, dibawah asuhan KH. Syu’aib dan KH. Zubair Dahlan untuk memperdalam ilmu alat. Lalu kepesantren Lasem Rembang Jateng, untuk belajar ilmu fiqh dan Hadist pada KH. Kholil dan Ma’shum. Setelah itu, Mbah Sho’im melanjutkan pengembaraannya di pesantren kendal Bojonegoro di bawah asuhan KH. Abu Dzarrin dan pondok pesantren Jampes Kediri, di bawah asuhan KH. Ihsan Dahlan. Di sinilah Mbah Sho’im mendapatkan kepercayaan dari pesantren untuk mengajar.

KH. Mushlich adalah seorang penyabar dan ramah kepada siapapun, termasuk pada santri-santrinya. Oleh karena itu, tidak mustahil bila santrinya pun semakin lama semakin banyak, akhirnya pada tahun 1951 M, beliau mendirikan pendidikan ala madrasah di Desa Tanggir. Pada saat itu, fasilitas belajar masih ala kadarnya, seperti serambi masjid dan rumah-rumah warga sekitar yang ihklas dijadikan tempat belajar mengajar. Keadaan yang demikian terpaksa dilakukan karena belum memiliki gedung madrasah. Hingga pada tahun 1960 M, beliau baru bisa mendirikan dua gedung madrasah untuk santi putra dan putri. Meski bangunanya sangat sederhana. Pendidikan pada saat itu baru memiliki 2 tingkatan, yakni ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Karena banyaknya tuntutan para santri yang merasa belum puas untuk menyelami lautan hikmah, maka pada tahun 1970 M beliau mendirikan tingkat Aliyah. (Sumber undangan haul ke 33).

Besok pada tanggal 16 Februari 2017, tepat beliau KH. Mushlich diperingati Haul ke XXXIII (33 Tahun), dengan beberapa rentetan acara, mulai dari festifal lomba baca kitab kuning, khitobiyah, Adzan, hafalan Tasrifan, nadhom maqsud, nadhom imtiri, sampai hafalan nadhom kitab Alfiyah ibnu Malik untuk memacu integritas dan daya ingat hafalan para santri menjadi lebih unggul. Masih dalam rententan haul ke 33, Panpel juga mengadakan kegiatan jalan sehat, mulai dari MI, MTS, SMK dengan memberikan door prize yang menarik bagi undian yang beruntung.

Tidak ketinggalan pula, tradisi pondok pesantren Raudhlatut Thalibin tiap tahun mengadakan Bahtsul Masail Kubro yang di kemas dalam acara haul.  Acara ini mengundang pondok pesantren se Jawa Timur-Jawa Tengah untuk membahas permasalahan yang muncul di masyarakat. Tujuan bahtsul masail kubro adalah untuk meningkatkan kualitas pemikiran santri, merumuskan pemecahan masail waqi’iyah (aktual) sesuai dengan tuntunan syara’ sistem pengambilan hukum dalam bahtsul masail, menghidupkan jejak ulama salaf dalam menyingkapi permasalahan yang muncul di masyarakat.

Facebook Comments

ULASAN

1 min read
1 min read
3 min read
1 min read