KH. MUSHLICH ABDUL KARIM (SHOIM)

pondok tanggir, tanggir, KH. MUSLIH ABDUL KARIM, pondok tanggir,PONDOK PESANTREN RAUDLATUT THALIBIN Tanggir,
PENDIRI PONDOK PESANTREN TANGGIR SINGGHAN TUBAN JAWATIMUR

KH. Mushlich, dengan nama kecil Sho’im, lahir di desa Mojo (yang lebih dikenal dengan sebutan Jambangan) Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban. Tepatnya, pada tanggal 17 ramadhan 1343 H/1921 M, dari pasangan KH. Abdul Karim dan Ny. Mu’isyah (Putri KH. Murtadlo, kuncen padangan Bojonegoro) bin K. Syihabuddin bin K. Anom bin KH. Abdul Jabbar Nglirip Jojogan (menantu mbah sambu Gresik, cucu sunan Ampel) bin pengeran Benowo bin Sultan Pajang (menantu raden fatah Demak).

Beliau dibesarkan dari keluarga sederhana di lingkungan yang bersahaja, yaitu lingkungan pesantren yang jauh dari keramaian kota, serta tidah adanya kimunikasi dengan wilayah lain, karena terputusnya akses dari wilayah utara oleh sungai (kali) Kening. Sedang dari arah selatan terputuskan dengan area persawahan, hutan dan perbukitan. Sehingga, penduduk yang menghendaki bepergian, terpaksa harus berjalan kaki menuju Setasiun kereta api yang berjarak berkilo-kilo.

Masa Kecil.

Seperti anak kecil pada umumnya, Mbah sho’im kecil juga suka bermain dengan teman sebayanya. Tetapi, sejak kecil beliau sudah memiliki banyak kelebihan, Diantaranya kesabaran, sifat tenang, selalu mengalah, tidak sombong, lembut dan tidak pernah menonjolkan nasabnya. Selalu beraklaqul karimah, ramah dan istiqomah dalam tingkah kepada siapapun.

MASA BELAJAR MBAH SHO’IM

Sejak kecil, beliau yang hidup di kehidupan pesantren, sangatlah paham betul dengan kewajiban menuntut ilmu, sehingga, selain belajar pada keluarganya sendiri, di usia 10 tahun, mbah Sho’im kecil sudah mulai merantau untuk menuntut Ilmu (nyantri).

Perantauan pertama beliau berlabuh ke pesantren KH. Syarbini Lengkong Desa Laju Lor, Kec. Singgahan Kab. Kemudian, untuk memperdalam ilmu alatnya, beliau melanjutkan mondok ke pesantren Sarang Rembang, Jawa Tengah, yang kala itu di asuh oleh KH. Syu’aib dan KH. Zubair Dahlan. (Ayahanda KH. Maemoen Zubair).

Tak berhenti di situ, Beliau melanjutkan kepesantren Lasem Rembang Jawa tengah, untuk belajar ilmu fiqh dan Hadist, kepada KH. Kholil dan KH. Ma’shum.

Dan kembali melanjutkan pengembaraannya di pesantren kendal Bojonegoro di bawah asuhan KH. Abu Dzarrin (1947 M).

MENIKAH & MENDIRIKAN PONDOK

Setelah kepulanganya dari pondok Abu dzarin. Tepatnya pada Hari jum’at 22 September 1947 M. Mbah sho’im menikah dengan Ibu Ny. Maslichah Tanggir. Dan Uniknya, berbeda dengan pengantin pada umumnya, selang beberapa waktu, setelah melangsungkan akad pernikahan, Beliu berangkat nyantri lagi, Untuk menuruti gejolak rasa hausnya akan samudra keilmuan, beliau berangkat kepondok pesantren Jampes Kediri, yang kala itu di asuh oleh KH. Ihsan Dahlan. (Syaikh Ihsan Jampes). Selama kurang lebih 3 Tahun.

Karena di akui telah memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, di jampes K. Mushlich mendapatkan kepercayaan besar dari pesantren untuk mengajar di madrasah mafatihul huda (Nama madrasah di pondok jampes).

Dan di hari kepulanganya, beliau di bekali 4 orang santri, oleh syaikh ihsan jampes sebagai bibit santri PP. Tanggir kelak.

4 Santri tersebut adalah :

1.

2.

3. KH. Manshur (Magelang Jawa tengah)

4.

Setelah kepulanganya dari pondok jampes, barulah beliau mbah sho’im menetap di desa tanggir bersama sang istri, untuk Nasyrul ilmi wal ‘amal, menyebarkan ajaran islam ala ahlu sunnah wal jama’ah di daerah tanggir dan sekitarnya.

Dari pernikahan tersebut, beliau di karunia 6 putra & 1 putri. Yakni :

1. KH. Munawwir mushlich (Almarhum)

2. Ny. Hj. Khodijah Mushlich

3. K. Ali mas’ud Himam Mushlich (Almarhum)

4. K. Ali Ridlwan Mushlich (Almarhum)

5. K. Luqman Hakim Mushlich

6. KH. Manshur Mushlich

7. Agus Mishbach Mushlich.

Sedangkan asal muasal Nama MUSHLICH melekat pada beliau Mbah sho’im, bermula ketika beliau berpulang dari Tanah makkah Al-mukarromah pada tahun 1954 M.

Pada awal pembetukanya, Pondok tanggir hanyalah sebuah surau kecil di area persawahan, yang di surau tersebut beliau KH. Mushlich megajarkan pelajaran-pelajaran keagamaan, dengan berbekal ilmu yang di perolehnya dari berbagai pondok yang pernah beliau singgahi.

Namun lama kelamaan ternyata santri-santri mulai berdatangan, baik dari penduduk sekitar atau penduduk luar daerah.

Melalui jalinan kerjasama yang baik antara kiai, santri-santri senior dan tokoh masyarakat setempat, pada tahun 1950 M, maka timbulah kesepakatan untuk mendirikan pondok dengan pendidikan ala madrasah di Desa Tanggir kecamatan singgahan kabupaten tuban dengan nama PP. Raudlatut thalibin.

Pada saat itu, fasilitas belajar mengajar masih sangat sederhana dan ala kadarnya, Kegiatan banyak di lakukan di serambi masjid dan rumah-rumah warga sekitar yang ihklas dijadikan tempat belajar mengajar. Keadaan yang demikian terpaksa dilakukan selama sekitar 4 tahun, karena belum adanya gedung madrasah untuk belajar.

Hingga pada tahun 1960 M, beliau mendirikan dua gedung madrasah untuk santri putra dan putri .

Dalam bangunan yang sangat sederhana, Pendidikan pada saat itu baru memiliki 2 tingkatan, yakni ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

Karena banyaknya tuntutan para santri yang merasa belum puas untuk menyelami lautan hikmah, dan makin banyaknya santri yang berbondong-bondong menuju tanggir, maka pada tahun 1970 M. beliau KH. Mushlich mendirikan madrasah tingkat selanjutnya yaitu madrasah tingkat Aliyyah.

Semasa hidupnya, KH. Mushlich menghabiskan waktunya dengan sangat istiqomah mendidik santri dari pagi hingga malam hari .

Bahkan KH Mushlich hanya berhenti beberapa jam saja untuk melaksanakan sholat, makan dan
istirahat sejenak. Bisa di kata, tidak ada hari libur yang menghiasi kehidupan beliau.

Selain mendidik santri-santri dengan tanpa henti, pada malam Selasa, beliau memiliki rutinitas
memberikan pengajian kepada masyarakat sekitar, hususnya kaum bapak-bapak dan ibu-ibu.

Yang menarik, beliau KH. Mushlich juga mempunyai jadwal husus untuk memberikan pengajian kitab Hikam Ibnu Athaillah As Sakandari kepada bapak mertuanya. H Abdur Rohman, pada kedua paman beliau (H. Mun’im & H. Syafi’i) juga Mbah Thohir Dukuan, yang dilaksanakan setiap hari Jum’at, mulai jam 08.00 sampai jam 10.00 pagi WIB.

MENJELANG WAFAT.

Begitu istiqomahnya beliau dalam menjalani aktifitas tersebut hingga di usia yang sudah senja pun beliau KH. Mushlich masih aktif memberikan perhatian, didikan serta pengajian kepada santri santrinya. Berkali-kali dokter menyarankan beliau untuk banyak istirahat, Namun saran itu tidak pernah beliau lakukan.

Karena memang sudah menjadi kebiasaan beliau untuk mengupayakan husnul khotimah.

Hingga akhirnya, setelah selesai mengaji di serambi masjid,
Usai menemui tamu yang bersilaturrohim dan berkumpul
dengan keluarga di ruang tengah (dalem), saat hendak
mengambil air wudhu beliau terjatuh tidak sadarkan diri, Dan puncaknya, hanya Allah yang mampu menghentikan keteguhan serta
keikhlasan hatinya. Tepat pada hari Sabtu malam Ahad tanggal
10 Februari 1985 M. bertepatan dengan tanggal 20 Jumadil Ula 1405 H jam 12.00 malam, KH Mushlich yang penyabar itu dipanggil untuk menghadap Allah Azza wa Jalla genap d usia 64 tahun.

Ribuan peziarah berdatangan memberi penghormatan terakhir dan menghantarkanya sampai di peristirahatan terakhir. Yang terletak di sebelah barat masjid Khozinatul abror PP. Raudlatut Thalibin Tanggir Tuban.

Beliau wafat meninggalkan sang istri dan ketujuh putranya. Yang saat itu masih ada 3 putra belia beliau, Yaitu Agus Lukman Hakim, Agus Abu Manshur, dan Agus Mishbachul Munir.

Facebook Comments